Abstract
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi nasional 19,8% pada tahun 2024. Puskesmas Lima Puluh memiliki jumlah balita stunting tertinggi dari 21 puskesmas di Kota Pekanbaru. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan pola makan dan sanitasi lingkungan rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian analitik dengan desain cross-sectional ini melibatkan 101 ibu balita usia 0–59 bulan di Kelurahan Tanjung Rhu yang dipilih dengan proportional random sampling per posyandu. Pola makan dan sanitasi lingkungan diukur menggunakan kuesioner terstruktur dan observasi, sedangkan stunting ditetapkan berdasarkan z-score PB/U atau TB/U < −2 SD. Data dianalisis dengan uji chi-square dan kekuatan asosiasi dinyatakan sebagai prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95% (95% CI). Hasil penelitian menunjukkan Prevalensi stunting sebesar 30,7%. Stunting lebih banyak ditemukan pada balita dengan pola makan buruk dibandingkan pola makan baik (65,7% vs 12,1%; PR = 5,42; 95% CI: 2,71–10,83; p < 0,001) serta pada balita dengan sanitasi tidak sehat dibandingkan sanitasi sehat (60,9% vs 5,5%; PR = 11,16; 95% CI: 3,62–34,35; p < 0,001). Kesimpulan penelitian ini yaitu pola makan buruk dan sanitasi rumah tangga yang tidak sehat berhubungan kuat dengan stunting. Intervensi terpadu berupa konseling pemberian makan dan perbaikan sanitasi rumah tangga perlu diprioritaskan di wilayah ini.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Copyright (c) 2026 Riski Novera Yenita

