Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menggali hambatan komunikasi yang dialami komunitas pemulung dalam upaya mengurangi sampah plastik di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan pada bulan Maret–Mei 2025. Sebanyak tujuh informan terdiri atas lima pemulung aktif, satu pengepul, dan satu pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maros dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode serta member checking. Hasil penelitian mengidentifikasi lima hambatan utama, yaitu: (1) literasi lingkungan yang beragam dan umumnya rendah; (2) ketidaksesuaian saluran komunikasi dengan akses dan kebiasaan komunitas karena media digital jarang dapat diakses; (3) pesan yang terlalu teknis sehingga sulit dipahami dan diterapkan; (4) rendahnya partisipasi masyarakat; dan (5) minimnya infrastruktur pengelolaan sampah. Temuan ini menunjukkan bahwa hambatan komunikasi terjadi pada tingkat pesan, saluran, dan penerima, serta diperkuat oleh keterbatasan struktural. Oleh karena itu, program pengurangan sampah plastik perlu menerapkan komunikasi interpersonal dan partisipatif melalui perantara yang dipercaya seperti pengepul, menyampaikan pesan yang sederhana dan visual, serta disertai perbaikan fasilitas pemilahan.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Copyright (c) 2026 Indah, Rahmah, Nahdiana

